Jumat, 22 Agustus 2014

Konveksi Kaos Partai dan Lebaran

konveksi kaos Pemilihan umum ikut berperan mendorong roda perekonomian nasional. Di balik euforia atau kemeriahan masa kampanye, sektor riil bergerak dan menikmati keuntungan. Tidak dipungkiri, kampanye dengan media konvensional atau media percetakan, turut mendongkrak pendapatan pelaku konveksi kaos usaha kecil menengah bidang konveksi.

Tengok saja saat kampanye pemilihan legislatif digelar beberapa bulan lalu.Hampir sebagian besar calon anggota DPR, DPRD maupun DPD sibuk mengkampanyekan diri melalui pelbagai jenis atribut. Mulai dari spanduk, brosur, hingga kaos. Pundi-pundi Rupiah mengalir deras seiring membanjirnya pesanan atau orderan atribut dan bahan kampanye.



Setelah meraup omzet tinggi saat pemilihan anggota legislatif, kini para pengusaha konveksi kembali bersiap-siap menjaring Rupiah menjelang kampanye pemilihan presiden. Pengusaha konveksi M. Nasution menuturkan, saat pemilu, omzet bisnisnya bisa melonjak drastis dibanding biasanya."Iya Alhamdulillah omzet naik sekitar 80 persen ada," ucap Nasution saat ditemui merdeka.com di tokonya daerah Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (23/5).

Nasution menceritakan, hampir semua partai politik peserta Pemilu adalah kliennya dalam pembuatan beberapa atribut. Pesanannya diakui tidak dalam jumlah besar, namun cukup mendongkrak pemasukannya. "Semua partai (Caleg) pesan. Paling jumlahnya puluhan tapi kalau yang (modal) gede bisa ratusan," paparnya. Sejumlah atribut partai, mulai dari kaos, topi hingga bendera, menjadi favorit. "Tapi karena pesannya di sini (Pasar Senen) paling buat yang di dapil Jakarta aja," pungkasnya.

Konveksi Kaos Lebaran


Menghadapi Lebaran yang tinggal dua bulan lagi, perusahaan konveksi kaos pakaian jadi skala kecil atau rumah tangga di daerah Jembatan Lima, Jakarta Barat sudah mulai kebanjiran pesanan hingga dua kali lipat untuk memenuhi permintaan pedagang pasar yang cenderung menimbun stok."Pesanan jahit sudah mulai meningkat sejak Juli, yang biasanya 200-300 potong sekarang sekitar 500-700 potong per hari dari tiap pelanggan," kata Nurhamin, pemilik konveksi kaos oblong di Pekapuran, Jakarta Barat, Minggu.

Menurut dia, pesanan tersebut bertambah karena pedagang di pasar cenderung mengumpulkan persediaan barang terlebih dahulu sebelum permintaan melonjak di hari-hari mendekati Lebaran yang jatuh pertengahan Oktober."Trennya seperti itu, permintaan terbanyak bisanya baju perempuan atau anak-anak," kata Nurmahin yang sejak tahun 1991 merintis usahanya sendiri.

Penghasilan Nurhamin otomatis meningkat selama dua bulan terakhir ini, yang semula hanya tiga juta per bulan kini mencapai empat hingga lima juta per bulan.Nurhamin memasang ongkos jahit Rp100 per potong untuk kaos oblong, sementara selain kaos oblong atau baju berkancing ongkos jahitnya sekitar Rp1.500-Rp2.000 per potong.

Konveksi milik Nurhamin khusus mengerjakan jahitan kaos oblong dari beberapa pemotong kain di Tambora dan Angke yang juga pedagang di pasar Tanah Abang Jakarta Pusat."Konveksi yang dimiliki pemotong kain dan pedagang pakaian jarang mengerjakan penjahitan, bordir, sablon atau pemotongan sendiri, mereka lebih suka memberikan pekerjaan tersebut ke tangan kami," katanya.


Konveksi Kaos Baju berkancing



Konveksi Kaos Partai dan Lebaran penjahitan baju berkancing juga mengalami peningkatan hingga dua kali lipat, Ahian salah satu pemilik konveksi di Tambora mengaku sejak Juli memperolah penghasilan Rp5-6 juta per bulan dari sebelumnya hanya sekitar Rp3 juta per bulan. "Sejak Juli satu hari dapat 240 potong dari empat penjahit dan dua pengobras sebenarnya bisa lebih, tapi kami kekurangan tukang obras dan jahit," kata Ahian.

Hamin, pemilik konveksi khusus penjahitan kaos di Tambora juga mengatakan hal yang serupa, alasannya para pemotong kain yang juga pedagang tersebut malas untuk mengurus pegawai jahit dan tukang obras yang sifatnya lepas."Sekarang saya kebanjiran order, sebenarnya satu hari ini bisa sampai 1000 potong, dan dikerjakan 20 penjahit, namun sekarang hanya ada 15 orang hanya bisa mengerjakan hingga 700 potong," katanya.

Konveksi skala kecil atu rumah tangga di wilayah Tambora, Pekapuran dan Sawah Lio yang jumlahnya mencapai ratusan, rata-rata kekurangan pegawai karena di depan pintu terpasang papan lowongan untuk tukang obras, jahit dan tukang bordir. Tenaga kerja lepas tersebut bisanya suka berpindah-pindah tempat kerja walaupun pada lokasi yang sama yakni di sekitar Jembatan Lima."Kami bersaing mencari tenaga kerja, kalau masalah pesanan tidak begitu bersaing karena kami punya pelanggan dan spesialisasi masing-masing," kata Hamin.

Menurut Hamin yang sebelumnya juga penjahit lepas, tukang jahit cenderung mencari pekerjaan yang mudah seperti menjahit kaos atau "tank top", namun hal tersebut tergantung pada pangalaman dan kemampuan masing-masing. Menurut beberpa pengusaha konveksi, baik pemotongan, penjahitan maupun bordir pesanan untuk mereka akan terus meningkat hingga satu bulan setelah Lebaran.

http://konveksikaosmurah.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar