Menghadapi Lebaran yang tinggal dua bulan lagi, perusahaan konveksi kaos pakaian jadi skala kecil atau rumah tangga di daerah Jembatan Lima, Jakarta Barat sudah mulai kebanjiran pesanan hingga dua kali lipat untuk memenuhi permintaan pedagang pasar yang cenderung menimbun stok. "Pesanan jahit sudah mulai meningkat sejak Juli, yang biasanya 200-300 potong sekarang sekitar 500-700 potong per hari dari tiap pelanggan," kata Nurhamin, pemilik konveksi kaos oblong di Pekapuran, Jakarta Barat, Minggu.
Menurut dia, pesanan tersebut bertambah karena pedagang di pasar cenderung mengumpulkan persediaan barang terlebih dahulu sebelum permintaan melonjak di hari-hari mendekati Lebaran yang jatuh pertengahan Oktober. "Trennya seperti itu, permintaan terbanyak bisanya baju perempuan atau anak-anak," kata Nurmahin yang sejak tahun 1991 merintis usahanya sendiri.
Penghasilan Nurhamin otomatis meningkat selama dua bulan terakhir ini, yang semula hanya tiga juta per bulan kini mencapai empat hingga lima juta per bulan. Nurhamin memasang ongkos jahit Rp100 per potong untuk kaos oblong, sementara selain kaos oblong atau baju berkancing ongkos jahitnya sekitar Rp1.500-Rp2.000 per potong. Konveksi milik Nurhamin khusus mengerjakan jahitan kaos oblong dari beberapa pemotong kain di Tambora dan Angke yang juga pedagang di pasar Tanah Abang Jakarta Pusat.
Konveksi Kaos Kain
konveksi kaos murah yang dimiliki pemotong kain dan pedagang pakaian jarang mengerjakan penjahitan, bordir, sablon atau pemotongan sendiri, mereka lebih suka memberikan pekerjaan tersebut ke tangan kami," katanya. Konveksi penjahitan baju berkancing juga mengalami peningkatan hingga dua kali lipat, Ahian salah satu pemilik konveksi di Tambora mengaku sejak Juli memperolah penghasilan Rp5-6 juta per bulan dari sebelumnya hanya sekitar Rp3 juta per bulan.
"Sejak Juli satu hari dapat 240 potong dari empat penjahit dan dua pengobras sebenarnya bisa lebih, tapi kami kekurangan tukang obras dan jahit," kata Ahian. Hamin, pemilik konveksi khusus penjahitan kaos di Tambora juga mengatakan hal yang serupa, alasannya para pemotong kain yang juga pedagang tersebut malas untuk mengurus pegawai jahit dan tukang obras yang sifatnya lepas.
"Sekarang saya kebanjiran order, sebenarnya satu hari ini bisa sampai 1000 potong, dan dikerjakan 20 penjahit, namun sekarang hanya ada 15 orang hanya bisa mengerjakan hingga 700 potong," katanya. Konveksi skala kecil atu rumah tangga di wilayah Tambora, Pekapuran dan Sawah Lio yang jumlahnya mencapai ratusan, rata-rata kekurangan pegawai karena di depan pintu terpasang papan lowongan untuk tukang obras, jahit dan tukang bordir.
Tenaga kerja lepas tersebut bisanya suka berpindah-pindah tempat kerja walaupun pada lokasi yang sama yakni di sekitar Jembatan Lima. "Kami bersaing mencari tenaga kerja, kalau masalah pesanan tidak begitu bersaing karena kami punya pelanggan dan spesialisasi masing-masing," kata Hamin.
Menurut Hamin yang sebelumnya juga penjahit lepas, tukang jahit cenderung mencari pekerjaan yang mudah seperti menjahit kaos atau "tank top", namun hal tersebut tergantung pada pangalaman dan kemampuan masing-masing. Menurut beberpa pengusaha konveksi, baik pemotongan, penjahitan maupun bordir pesanan untuk mereka akan terus meningkat hingga satu bulan setelah Lebaran.
Konveksi Kaos Pilihan
Macam Konveksi Kaos Desain kaos Edwin juga memiliki keunikan tersendiri. Selain dari bahan yang terbuat dari serat bambu, desainnya juga berbau ke-Jepang-an. "Kita pakai bahan dari bambu sedangkan kaos biasa biasanya dari kapas, cuman mulai tahun ini kita pakai bahan dari serat bambu yang anti kuman dan anti bakteri. Serat ini juga memiliki fungsi super anti ultraviolet, di mana katun bambu memiliki daya tembus serat 0, 6 persen berbeda dengan kaos biasa, daya tembus 25 persen. Sedangkan untuk desain, kebanyakan desain kita Indonesia ala Jepang-jepangan. Kenapa Jepang? Karena secara pribadi saya suka film jepang dan suka dengan quote motivasi buatan Jepang", cerita lelaki yang lahir 24 tahun ini.
Kaos Edwin pun sudah banyak beredar di seluruh Indonesia. Namun pria lulusan SMA ini memiliki mimpi yang lebih besar lagi untuk brandnya. "Visi misi kita sih pengen membuat produk (fashion) hingga ke luar negeri terutama Jepang. Sementara ini saya akan mendekatkan produk saya dengan lebih banyak lagi distribution outlet di beberapa kota di Indonesia", ungkapnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar